Tanggal Posting

February 2014
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
2425262728  

Aktifitas


11 sampai 61 Hijriyyah

Buku1

# Meluruskan Sejarah Umat Islam  #

** Sejak Wafat Nabi Muhammad hingga Terbunuhnya al-Husain  **

 

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita juga berlindung kepada-Nya dari segala keburukan diri dan semua kejelekan amal. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang bisa memberinya hidayah. Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, serta saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

 

Sesungguhnya perkataan yang terbaik adalah firman Allah; petunjuk yang terbaik adalah petunjuk Muhammad; perkara yang terburuk adalah perkara yang diada-adakan dalam agama: setiap perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat tempatnya di Neraka.

 

Mulanya saya ragu untuk menulis buku bertema ini.  Karena sudah ada penulis yang mengangkat tema ini dengan pemaparan yang benar, meskipun mayoritas penulis lainnya memaparkannya secara bathil (tidak benar). Tidak diragukan lagi bahwa tema buku ini termasuk tema yang everlasting.  Pembahasannya terus hidup dan selalu layak dikaji walaupun masanya sudah berlalu sangat lama. Tidak hanya itu, menghidupkan kembali tema tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap generasi Sahabat Rasulullah yang merupakan generasi terpilih dan terbaik di antara manusia yang ada setelahnya.

 

Sebagai generasi pilihan yang diberkahi, generasi Sahabat memiliki banyak kelebihan dibandingkan generasi sekarang. Karenanya, ada fakta-fakta sejarah yang harus kita ungkap terkait kehidupan. Sebab, Sampai kapan pun, kebenaran harus menjadi anutan. Kedudukan mereka berbeda dengan generasi lainnya. Tidak ada seorang pun yang mampu menyamai ilmu dan amal mereka. Tidak ada pula yang mampu menyusul mereka dalam hal ini. Melalui merekalah Allah meninggikan dan memenangkan agama-Nya (Islam).

 

Walaupun selalu membicarakan keutamaan Sahabat-Sahabat Nabi, ini tidak berarti kita menganggap mereka ma’shum (tidak pernah berbuat salah). Sebab, sebagaimana dimaklumi, tidak ada makhluk yang dijadikan ma’shum oleh Allah kecuali para Nabi dan Malaikat-Nya.

 

Memang benar, ada di antara Sahabat yang pernah melakukan kesalahan semasa hidup mereka dan setelah Rasulullah wafat. Akan tetapi, apabila kita membandingkannya dengan penderitaan, kesusahan, dan malapetaka yang mereka tanggung di jalan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu kealpaan mereka itu tidak sebanding dengan semua pengorbanan itu.

 

Belum lagi bila kita membandingkannya dengan kegigihan mereka di jalan dakwah untuk menyebarkan agama yang lurus sebagai manifestasi agama Ibrahim ini; juga pengorbanan mereka dalam berhijrah sampai rela meninggalkan keluarga dan kampung halaman; begitu pula jihad yang mereka tegakkan dengan segenap harta dan jiwa; serta pembelaan mereka terhadap Rasulullah dengan segala kekuatan yang dimiliki; maka sungguh, semua fakta tersebut menjadikan kesalahan mereka, jika dibandingkan dengan banyaknya kebaikan dan amal shalih mereka, laksana butiran-butiran pasir di antara gunung-gunung yang menjulang; atau laksana tetesan-tetesan air di antara limpahan air bah1. Sungguh, keduanya tidak mungkin dibandingkan.

 

Tidak diragukan lagi, peran sejarah amat penting dalam kehidupan umat manusia dan seluruh bangsa di dunia ini.  Sejarahlah yang mematok tiang eksistensi setiap umat dan bangsa itu. Sejarah juga yang menentukan arah pada masa kini dan tujuan pada masa mendatang. Suatu umat atau bangsa yang ingin mencapai kelayaan dan kemuliaan harus bersahabat dengan masa lampaunya, supaya memperoleh kekuatan dan pegangan dalam membangun masa kininya serta agar dapat memandang jauh ke depannya.

 

Sungguh, umat Islam lebih pantas becermin pada sejarah daripada umat-umat yang lain. Karena, umat Islam menyandang kejayaan, heroisme (kepahlawanan), dan keunggulan yang tidak sebanding dengan sejarah satu umat pun. Namun dewasa ini, di tengah keterpurukan Islam akibat ulah umatnya sendiri, Allah menguji kita dengan gempuran para pewaris kera dan babi (Ahlul Kitab) serta para penyembah thaghut2 (kaum musyrikin). Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah Yang Mahatinggi dan Mahamulia.

 

Orang yang hina tidak berarti baginya celaan

sebagaimana mayit takkan merasa sakit karena sayatan3

untaian dari inilah faktanya

Saya menegaskan bahwa ditengah keterpurukan global ini kita harus kembali kepada sejarah umat Islam yang agung dan cemerlang. Tujuannya tidak lain memudahkan kita dalam mengintrospeksi diri, memandang sekeliling kita, dan merencanakan langkah-langkah konkret untuk masa depan kita. Namun semua itu tidak akan terwujud tanpa merujuk dan merenungkan sejarah yang shahih. Karena, hanya sejarah yang shahihlah yang bermanfaat.

 

Siapa saja yang mencermati sejarah Islam secara mendalam pasti mengetahui periodenya yang paling gemilang adalah periode Rasulullah dan para Sahabat. Sahabat-Sahabat beliaulah yang mengemban tugas menyebarkan Islam. Merekalah makhluk Allah yang terbaik setelah para Nabi dan Rasul.

 

Akan tetapi pada perjalanannya, sejarah Islam banyak mengalami distorsi, pencemaran, dan penyelewengan fakta dan data, dikarenakan munculnya kelompok-kelompok sempalan yang sesat. Tiap-tiap kelompok berusaha menjatuhkan kelompok yang lain dan, pada saat yang bersamaan mengangkat citra pribadi. Akibatnya, muncullah cacat-cacat pada kemurnian sejarah para Pemuka umat kita.

 

Maka tidak heran jika di antara umat ini kita mendapati kelompok yang ghuluw atau melampaui batasan syariat dalam mencintai sosok tertentu. Kelompok ini mencintai Sahabat yang mulia, ‘Ali bin Abu Thalib, dengan kecintaan yang justru merusak segala-galanya. Demi kecintaan itu, mereka dengan lancang menisbatkan hal-hal dan kabar-kabar palsu kepada ‘Ali.  Di samping itu, dia berusaha menjatuhkan kemuliaan Sahabat yang lain; dan menuding mereka telah merampas hak-hak ‘Ali dan menzhalimi sepupu Nabi ini, dan itu artinya mereka telah menzhalimi diri mereka sendiri.

 

Bahkan kecintaan yang berlebihan tersebut juga ditujukan rada cucu-cucu ‘Ali; sehingga dinyatakan bahwa cucu-cucu ‘Ali adalah para imam yang ditunjuk berdasarkan nash suci dan ma’shum. Padahal, itu sama artinya menyamakan kedudukan para imam tersebut dengan para Nabi5.

 

Bahkan, ‘Ali pernah menyatakan: “Suatu kaum akan mencintaiku tetapi mereka justru masuk Neraka lantaran kecintaan itu. Dan suatu kaum juga akan membenciku sehingga mereka masuk Neraka lantaran kebencian itu.”6. ‘Ali juga menyatakan: “Berkaitan denganku, dua orang akan binasa: orang yang berlebih-lebihan dalam mencintaiku, dan orang yang berlebih-lebihan dalam membenciku.”7

 

Menurut pendapat yang shahih, sangkaan-sangkaan dan bentuk-bentuk ghuluw terhadap ‘Ali bin Abu Thalib muncul setelah pertengahan abad ketiga Hijriyah. Salah satu hal yang menguatkan pendapat ini adalah tidak ada satu pun riwayat shahih yang menunjukkan adanya kebencian antara ‘Ali dan Sahabat lainnya. Justru sebaliknya, riwayat-riwayat shahih yang ada menunjukkan besarnya kecintaan mereka terhadap sesama. Bahkan, disebutkan pula gambaran-gambaran cemerlang berupa sikap setiap individu yang lebih mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri; juga tentang eratnya persaudaraan dan kasih sayang mereka, saling menasihati antar mereka, dan kuatnya hubungan kekerabatan di antara mereka. Hal inilah yang semestinya dijadikan sandaran bagi pencari kebenaran guna memastikan bahwa permusuhan dan kebencian di antara para Sahabat Nabi hanya dusta belaka.

 

Akan saya uraikan sebagian gambaran cemerlang yang dimaksud dalam paragraf-paragraf berikut, sebagai bukti pernyataan dan argumentasi di atas.

 

Pertama, tiga Khulafa-ur Rasyidin -Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Umar bin al-Khaththab, dan ‘Utsman bin ‘Affan- mendorong ‘Ali bin Abu Thalib untuk menikahi Fathimah,  Mereka juga turut mempersiapkan pernikahan keduanya dan menjadi saksi atasnya.

 

‘Ali menuturkan: “Abu Bakar dan ‘Umar menemuiku, kemudian mereka berkata: ‘Seandainya kamu menemui Rasulullah lalu menyebutkan keinginanmu untuk menikahi Fathimah (niscaya beliau akan mengabulkannya).”

 

‘Ali juga menuturkan: “Rasulullah menyuruhku: ‘Pergilah sekarang, kemudian juallah baju perangmu, berikan uang hasil penjualannya kepadaku. Akan kugunakan uang itu untuk mempersiapkan pernikahanmu dengan putriku, dan untuk membeli apa saja yang kalian perlukan.’ Aku pun pergi dan menjual baju perangku seharga empat ratus dirham Madinah kepada ‘Utsman bin ‘Affan.  Sesudah menerima dirham darinya, dan dia telah menerima baju perang itu dariku, ‘Utsman bertanya: ‘Bukankah sekarang aku lebih berhak atas baju perang ini daripada kamu, sebagaimana kamu lebih berhak atas dirham ini daripada aku?’ ‘Ya,’ jawabku singkat. Lalu ‘Utsman berkata: ‘Kalau begitu, baju perang ini aku berikan untukmu sebagai hadiah.’  Maka, aku mengambil baju perang dan dirham itu kemudian kembali menemui Rasulullah.  Aku segera meletakkan baju perang dan dirham tersebut dihadapan Beliau, dan tidak lupa kuceritakan perbuatan ‘Utsman. Beliau pun mendo’akan kebaikan bagi ‘Utsman. Setelah itu, beliau menggenggam sejumlah dirham kemudian memanggil Abu Bakar dan memberikan uang dirham itu kepadanya seraya berpesan: ‘Hai Abu Bakar, belilah dengan uang dirham ini segala keperluan putriku di rumahnya. 9

 

Anas menuturkan: “Rasulullah berseru: ‘Pergi dan panggillah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Thalhah, az-Zubair, dan sejumlah Sahabat Anshar.’ Maka, aku segera pergi dan memanggil mereka. Setelah mereka datang dan menempati tempat duduk masing-masing, Rasulullah berbicara: ‘Aku bersaksi di hadapan kalian bahwa aku telah menikahkan Fathimah dan ‘Ali dengan maskawin empat ratus mitsqal perak.”‘10

 

Kedua, ‘Ali bin Abu Thalib menikahkan putrinya, Ummu Kultsum binti Fathimah, dengan ‘Umar bin al-Khaththab.11

 

Ketiga, ‘Ali bin Abu Thalib memberi nama anak-anaknya dengan nama sahabat-sahabat dan orang-orang yang dicintainya,”yaitu Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman12. ‘Ali juga memuji keshalihan mereka.

 

‘Ali menuturkan: “Aku benar-benar menyaksikan para Sahabat Rasulullah. Menurutku, tidak ada seorangpun dari kalian yang bisa menyamai kualitas mereka. Pada pagi hari, tubuh mereka terlihat acak-acakan karena semalam suntuk bersujud dan berdiri, mengangkatturunkan kening dan punggung untuk shalat. Mereka berdiri seperti di atas bara api karena mengingat akhirat. Dan karena sujud yang lama, di dahi mereka membekas tanda seperti lutut domba.  Jika mengingat Allah, air mata mereka bercucuran dan tubuh mereka bergetar laksana pohon saat terkena angin kencang.”13

 

‘Ali memiliki beberapa anak, antara lain bernama Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman. Abu Bakar dan ‘Utsman terbunuh bersama al-Husain di Thaff, sedangkan ‘Umar termasuk di antara orang-orang yang dikaruniai umur panjang.14

 

Keragu-raguan saya untuk menulis tema ini akhirnya hilang setelah saya meyakini bahwa penulisannya mengandung banyak maslahat, tentunya sebatas yang Allah mudahkan bagi saya. Terlebih lagi, saya telah meminta pendapat beberapa ulama yang tepercaya. Jika ada kebenaran dalam tulisan ini, maka itu datangnya dari Allah; sedangkan jika ada kesalahan di dalamnya, maka itu datang dari saya dan syaitan.

 

Dalam buku ini, saya membahas satu periode sejarah penting dari sejarah panjang umat Islam, yaitu periode setelah Rasulullah wafat sampai tahun 61 H. Buku ini pun saya bagi menjadi beberapa bagian, dengan dua pokoknya: Muqaddimah dan Tiga Bab Utama.

 

Pada Muqaddimah, saya menyebutkan tiga sub bahasan mengenai tiga masalah mendasar: (1) cara membaca sejarah, (2) kitab sejarah siapa yang patut dibaca, dan (3) metode para sejarawan dalam mendistorsi sejarah Islam.

 

Pada Bab I, saya memaparkan peristiwa-peristiwa bersejarah sejak wafatnya Rasulullah (11 H) sampai tahun 61 H.  Semampu mungkin saya menjelaskan peristiwa-peristiwa penting pada periode ini dengan sanad-sanad yang shahih.  Tidak lupa saya menyertakan kritik-kritik atas kisah-kisah bohong dan bathil yang beredar luas di masyarakat.

Pada Bab II, saya mengupas perihal ‘adaalah (keshalihan) para Sahabat berdasarkan dalil-dalil al-Qur-an dan as-Sunnah. Saya juga menyebutkan syubhat-syubhat yang sering dikemukakan terhadap keshalihan mereka sekaligus bantahan-bantahannya.

Pada Bab III, saya membahas masalah kekhalifahan. Saya menukilkan dalil-dalil Syi’ah secara terperinci tentang lebih berhaknya ‘Ali sebagai khalifah daripada Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman. Lalu saya mengkritisi dalil-dalil tersebut secara ilmiah dan terperinci, yang mungkin tidak akan Anda temukan dalam buku-buku lain. Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk ‘ujub (berbangga diri), tetapi demi mengamalkan firman Allah:

 

“Dan terhadap nikmat Rabbmu hendaklah engkau nyatakan.” (QS. Adh-Dhuha: 11)

 

Demikianlah pengantar singkat buku ini. Saya memohon kepada Allah, Rabb Yang Mahatinggi lagi Mahakuasa, semoga Dia menjadikan amal ini murni semata-mata karena mengharap wajah-Nya yang mulia. Sungguh, hanya Dialah yang layak dan mampu melakukannya. Akhir kalam terbaik kita adalah : “Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.”

 

‘Utsman bin Muhammad al-Khamis

 

Sejarah Ringkas dari wikipedia

632 M – Wafatnya Nabi Muhammad dan Abu Bakar diangkat menjadi khalifah. Usamah bin Zaid memimpin ekspedisi ke Syria. Perang terhadap orang yang murtad yaitu Bani Tamim dan Musailamah al-Kadzab.

633 M – Pengumpulan Al Quran dimulai.

634 M – Wafatnya Abu Bakar. Umar bin Khatab diangkat menjadi khalifah. Penaklukan Damaskus.

636 M – Peperangan di Ajnadin atas tentara Romawi sehingga Syria, Mesopotamia, dan Palestina dapat ditaklukkan. Peperangan dan penaklukan Kadisia atas tentara Persia.

638 M – Penaklukan Baitulmuqaddis oleh tentara Islam. Peperangan dan penkalukan Jalula atas Persia.

639 M – Penaklukan Madain, kerajaan Persia.

640 M – Kerajaan Islam Madinah mulai membuat mata uang Islam. Tentara Islam megepung kota Alfarma, Mesir dan menaklukkannya.

641 M – Penaklukan Mesir

642 M – Penaklukan Nahawand, kerajaan Persia dan Penaklukan Persia secara keseluruhan.

644 M – Umar bin Khatab mati syahid akibat dibunuh. Utsman bin Affan menjadi khalifah.

645 M – Cyprus ditaklukkan.

646 M – Penyerangan Byzantium di kota Iskandariyah Mesir.

647 M – Angkatan Tentara Laut Islam didirikan & diketuai oleh Muawiyah Abu Sufyan. Perang di laut melawan angkatan laut Byzantium.

648 M – Pemberontakan menentang pemerintahan Utsman bin Affan.

656 M – Utsman mati akibat dibunuh. Ali bin Abi Talib dilantik menjadi khalifah. Terjadinya Perang Jamal.

657 M – Ali bin Abi Thalib memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kufah. Perang Shifin meletus.

659 M – Ali bin Abi Thalib menyerang kembali Hijaz dan Yaman dari Muawiyah. Muawiyah menyatakan dirinya sebagai khalifah Damaskus.

661 M – Ali bin Abi Thalib mati dibunuh. Pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir. Hasan (Cucu Nabi Muhammad) kemudian diangkat sebagai Khalifah ke-5 Umat Islam menggantikan Ali bin Abi Thalib.

661 M – Setelah sekitar 6 bulan Khalifah Hasan memerintah, 2 kelompok besar pasukan Islam yaitu Pasukan Khalifah Hasan di Kufah dan pasukan Muawiyah di Damsyik telah siap untuk memulai suatu pertempuran besar. Ketika pertempuran akan pecah, Muawiyah kemudian menawarkan rancangan perdamaian kepada Khalifah Hasan yang kemudian dengan pertimbangan persatuan Umat Islam, rancangan perdamaian Muawiyah ini diterima secara bersyarat oleh Khalifah Hasan dan kekhalifahan diserahkan oleh Khalifah Hasan kepada Muawiyah. Tahun itu kemudian dikenal dengan nama Tahun Perdamaian/Persatuan Umat (Aam Jamaah) dalam sejarah Umat Islam. Sejak saat itu Muawiyah menjadi Khalifah Umat Islam yang kemudian dilanjutkan dengan sistem Kerajaan Islam.

661 M – Muawiyah menjadi khalifah dan mndirikan Kerajaan Bani Ummaiyyah.

669 M – Persiapan perang melawan Konstantinopel

670 M – Penaklukan Kabul.

677 M – Penyerangan Konstantinopel yang pertama namun gagal.

679 M – Penyerangan Konstantinopel yang kedua namun gagal karena Muawiyah meninggal di tahun 680.

680 M – Kematian Muawiyah. Yazid I menaiki tahta. Peristiwa pembunuhan Husain bin Ali di Karbala


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>